Skip to main content

Mengapa Candu Update Sosmed?

Kehidupan modern saat ini sudah tak bisa lepas dari media sosial. Orang-orang mulai candu dan betah di dunia maya ini. Fungsi media sosial pun semakin beragam bahkan mulai berlebihan.

Media sosial bisa digunakan sebagai alat bersosialisasi, berjualan, dan satu lagi, memamerkan. Ya memamerkan.

Saat ini media sosial malah jadi ajang mengekspresikan perasaan atau pamer apapun yang dianggap membanggakan. Pamer itu sendiri semakin berlebihan. Bahkan, ada urusan pribadi yang tidak seharusnya diperlihatkan, malah diumbar-umbar.

Ilustrasi by beritauhid.wordpress.com

Namun di balik semua itu, mengapa orang begitu candu update sosmed? Apasih alasan seseorang terbiasa memperbarui sosial medianya? Berikut beberapa alasannya:


1. Ada Rasa Senang

Jika setiap orang mau berpikir, sebetulnya update kegiatan di media sosial cenderung tidak berguna. Akan tetapi menurut penelitian terakhir, kecenderungan seseorang menceritakan tentang dirinya, berdampak pada pelepasan senyawa kimia di otak yang memberikan perasaan menyenangkan.

Rosediana Diary via https://i1.wp.com
Dalam pandangan psikologi sendiri, efek itu dikenal sebagai Asertif. Artinya, penyampaian perasaan dapat menimbulkan perasaan lebih lega atau menyenangkan.

2. Ingin Didengarkan


Tidak banyak orang yang mau mendengarkan keluh kesah seseorang. Akibatnya, orang itu kehabisan 'tempat sampah' sehingga lari ke media sosial.

Ilustrasi (by Huffingtonpost)

Hal itu wajar, karena kebutuhan untuk didengarkan adalah salah satu kebutuhan dasar manusia. Bahkan seorang penulis Amerika, Dale Carnegie, melakukan penelitian dan hasilnya menunjukan bahwa kebutuhan manusia untuk didengarkan sertara dengan kebutuhan untuk makan, kesehatan, tempat tinggal, dan seks.

Namun, bercurhat di media sosial bukanlah pilihan yang cukup tepat. Komunikasi secara langsung jauh lebih baik karena dapat mempererat hubungan sosial dan minim resiko penyalahgunaan privasi.

3. Ingin Dikenal


Alasan ingin dikenal tampaknya sudah diartikan berlebihan saat ini oleh pengguna media sosial. Mereka cenderung bertentangan dengan nilai moral yang dijunjung masyarakat sekitar. 

Ilustrasi via http://blog.adgager.com

Tidak jarang, postingan yang berkonten negatif tersebut menjadi viral, trends, bahkan dianggap goals oleh bagi sebagian orang. Sungguh miris.

Sebaiknya, pengguna media sosial lebih bijak dan peka terhadap masalah yang akan terjadi selanjutnya. Baik bagi diri sendiri atau bagi lingkungan sekitar.

Mulailah paham bahwa ketenaran bukan hal yang patut dibanggakan, kecuali karena prestasi. Jangan memamerkan sesuatu yang bersifat materi atau ujaran kebencian di media sosial, karena selain berbahaya, juga terlihat jumawa.

“Jangan gunakan sosial media untuk menarik perhatian orang lain, gunakanlah untuk memberikan hal positif kepada orang lain” – Dave Willis


Sumber: Pijar Psikologi

Comments

Popular posts from this blog

5 Cara Mengatasi Penolakan

Sering kali kita merasa gagal dan terpuruk ketika mendapat penolakan. Entah penolakan dari orang lain, kekasih, bahkan keluarga sendiri. Rasanya seperti tidak berarti lagi. Tapi, sebetulnya ada cara untuk menghadapi penolakan-penolakan tersebut. Semua terletak pada sudut pandang kita melihat penolakan tersebut. Nah, ada seorang content creator bernama Rama Satya yang membagikan opininya soal cara mengatasi penolakan. Dirangkum dan diolah tuminesia.com, berikut 5 cara inspiratif dalam menghadapi penolakan. 1. Simply Don't Give A Damn Sering kali kita takut penolakan karena takut dianggap gagal. Kita takut akan komentar orang-orang soal kegagalan kita itu. Namun, harusnya kita tidak perlu sedih, karena orang yang mengomentari kita itu telah melakukan hal gagal juga: yaitu membuang waktunya untuk membuat kita terpuruk. Maka, akan jauh lebih keren jika kita menutup kuping dan tetap berusaha. Dengan begitu, waktu yang mereka gunakan untuk menjatuhkan kita, tidak menghas

Tolong Kurangi Jibunnya Sampah Plastik

Semakin hari semakin buruk, semakin lama semakin ada-ada saja, itulah permasalahan lingkungan di Indonesia. Salah satu masalah yang dihadapi negeri ini ialah bejibunnya jumlah sampah plastik. Sampah jenis ini merupakan momok bagi kelangsungan lingkungan. Sifat sampah plastik yang sulit terurai menyebabkan permasalahan pada tanah. Kesuburan tanahnya akan berkurang dan tidak lagi seperti lagu Koes Plus yang "Kolam Susu". " Orang bilang tanah kita tanah surga Tongkat kayu dan batu jadi tanaman " Tidak lagi seperti itu ya kawan.... Apalagi, masyarakat masih saja suka membuang plastik sembarangan, seperti di sungai misalnya. Belakangan kan ada yang viral tuh, seorang warga buang sampah di depan petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU). Seperti itulah kira-kira sifat warga Indonesia yang senang menghapus pengertian empati dan simpati di pikirannya. Padahal, sampah itu akan mengalir ke laut dan dapat mengganggu kelangsungan ekosistem. Belum lagi